Anya sebagai penerima tamu, sekaligus sebagai karyawan sebuah hotel yang merupakan tempat diselenggarakannya acara tersebut.
Anya sosok perempuan yang ramah dan supel. Memiliki rambut lurus sebahu, berwajah oval dengan makeup minimalis, membuat mata Anya semakin tajam berbinar. Sangat manis!.
Dan Dean merupakan salah satu tamu yang datang bersama teman-teman nya yang lain. Penampilan Dean cukup berantakan untuk menghadiri sebuah pesta. Mungkin lebih cocok untuk menghadiri sebuah pertunjukan pensi-pensi sekolah, Aneh! protes Anya dalam hati.
"
Bisa saya lihat undangannya?" pinta Anya.
"
Undangan? Aduh Maaf, undangan saya tertinggal di rumah" jawab Dean.
"
Hmm.. Kalau begitu, boleh saya tahu nama lengkap dan alamat anda? Agar saya bisa mengecek dalam daftar undangan". Tanya Anya untuk meyakinkan.
"
Dean, Dean Artharevi. Petukangan Jakarta Selatan". jawab Dean. "
Baik, terima kasih". Sambil mengecek menggunakan komputer, kemudian.. "
Okey.. Silahkah, anda boleh masuk sekarang. Selamat mengikuti acara!"
Malam yang sangat indah dan ramai pun berlalu. Anya merasa lelah sekali karena pesta yang begitu ramai dan panjang membuat energinya terkuras. Jam menunjukan jam 07.00 pagi. Dengan malas dan berat, Anya beranjak dari tempat tidurnya untuk segera mandi dan bersiap kerja.
Rutinitas kerja Anya sebagai receptionist kadang Membosankan... Melelahkan... dan harus tetap tersenyum, apapun keadaannya. Banyak imajinasi yang timbul disaat kerja. membayangkan ini itu, senyam-senyum sendiri, sing along song, dan sontak seketika Anya mendengar suara gebrakan tangan seseorang tepat di depan mejanya.
"
Hey...!" Teriak Anya yg ga terlalu keras namun tegas kepada orang itu.
"Ternyata kamu! Sedang apa kamu disini? Setahu saya hari ini tidak ada pesta atau acara apapun". Anya diam sejenak
"Upst, maaf.. Ada yang bisa saya bantu?" dengan nada yg semakin pelan. Dan dengan muka yang datar, Dean pun menjawab
"Aku cuma mau tanya, toilet dimana? Hehe... becanda mba! Sialnya, Aku salah satu pemateri sekolah bisnis disini, tapi tenang Mba.. saya bisa menebak klo kehadiran saya disini adalah hal yg sangat menyenangkan buat Mba. Hehehe...!".
"Wah wah, anda cepat sekali GR yah! Tentu saja tidak. Banyak juga lho yang jadi pemateri disini, dan mereka malah kelihatan lebih pintar dan rapih dari anda". Jawab Anya meledek.
Hari demi hari mereka habiskan waktu mengobrol sambil minum kopi seusai kerja. Hubungan mereka berubah menjadi persahabatan. Persahabatan yang menyenangkan bagi Anya dan Dean. Mereka mengenal satu sama lain dengan baik. Teman Dean, pada akhirnya menjadi teman Anya juga. Mereka saling support satu sama lain.
Anya seorang yang introvert. Dia lebih tertutup dibanding Dean. Karena itu, Anya lebih sering mendengar semua keluh kesah dan curhatan Dean. Dari urusan kantor, keluarga, sampai dengan wanita-wanita yang jadi incarannya. Dan hal yang terakhirlah yang terkadang menjadikan Anya sedikit lebih pendiam dan tidak terlalu excited untuk memberikan saran. Karena dia sangat tahu perasaannya terhadap Dean, bukan lagi sekedar sayang terhadap sahabat. Dia punya rasa yang lebih dari itu. Lebih... dan lebih... Dan hanya dia yang tahu.
Anya tidak pernah mempunyai keberanian untuk mengungkap semua rasa yang dia miliki. Dia punya alasan untuk itu. Persahabatan yang pernah dia jalin semasa SMA dulu pernah berakhir dengan buruk. hanya karena salah satu sahabat Anya menyatakan cinta yang berepuk sebelah tangan. Kecanggungan demi kecanggungan muncul seiring dengan kecemburuan. Dan Anya tidak menginginkan hal itu terulang kembali dengan persahabatan yang sudah Anya jalin dengan Dean.
Cinta memang tak berpola. Dan cinta tak tau tata krama, apalagi keadaan. Tidak pernah ada yang mampu menahan cinta. Karena cinta adalah hal yang paling liar dan sulit diatur.
Anya selalu menolak seseorang yang datang memintanya menjadi kekasih. Anya juga terlihat sibuk sekali dengan semua hal yang berurusan dengan Dean. He do it anything 4 Dean. Karena Anya cuma hanya inginkan satu hal dari Dean, Anya ingin Dean selalu bahagia. Dan kebahagiaan Anya adalah, bisa berada dekat dengan Dean di setiap moment yang ada.
Klise memang... tapi begitulah Anya, semua yang dilakukannya untuk Dean benar-benar tulus.
Sering sekali Dean mengenalkan beberapa teman wanitanya yang berpotensi menjadi kekasihnya. Dan sesering itulah Anya harus merasakan sakit hati yang sebetulnya telah dia pilih dengan sadarnya.
.
.
Suara hujan terdengar jelas pada jam 10 senin malam. Badan Dean terasa remuk, lelah seharian mengerjakan laporan salah satu proyek di hotel. sebuah lagu dari salah satu radio mengalun perlahan,
"hey aku mengenal lagu ini! ini lagu eric clapton, lonely stranger.
yes i must be invisible, no one knows me,,
salah satu lagu yang sering menemani Dean jalan jalan malam, ya Dean memang suka jalan jalan malam, Dean merasa malam lebih sejuk dan indah, semua tertidur dan dia bisa menikmati semuanya serasa semua miliknya.
Tiba-tiba malam ini Dean teringat Anya, baru kemarin Dean pulang dari kostan nya. semalaman Dean menghabiskan waktu bersamanya, melihat pemandangan rumah rumah ibu kota yang berdempetan di sekitaran kostan nya, mendengarkan tetangga sebelah ribut, melihat anak muda sekitar bermain gitar dengan gaya bernyanyi ala charlie ST.12, melihat luasnya angkasa dan bintang di langit yang terhalang tiang antena dan kayu untuk jemuran dan melihat teraturnya anak anak kecil pulang mengaji dari masjid.
Dean kemarin malam berkata jujur, dia merasakan ada yang berbeda akhir-akhir ini, Dean sendiri tak pernah tau rasa apa yang dia rasakan, tetapi yang jelas dia tau bahwa itu karena hadirnya Anya di hidupnya, dia meminta Anya untuk bisa mengertinya, akan rasa tersebut. Anya [ternganga, kaget dan speechless, kemudian mengalihkan diri dan sebisa mungkin berpura-pura] mengangapnya jijik, Dean bilang Anya bagaikan udara, tak terlihat tapi selalu ada, Anya tersenyum kecil sambil menjulurkan lidah, Dean membalasnya dengan mencubit pipi Anya yang sedikit memerah. Anya meminta Dean terus bersikap seperti ini, menemaninya, melihat langit saat malam, mentertawakan masa lalu, mengejek hidup yang tak sesuai dengan cita cita, dan menghancurkan ikatan cinta dan menjadi seorang sahabat sesungguhnya. Dean bersedia, dengan menganggukkan kepala tanda setuju atas ucapan Anya tersebut.
Dean mendekat, dia mencium bibir Anya perlahan, Dean diam, rokok lucky strike mentol yang sedang dipegangnya sebelumnya, terjatuh dengan sendirinya, Dean kaget, apakah ini tanda "deal" persahabatan ala Anya? andai bisa kutanyakan itu, tetapi bibir dan lidahku terlalu sibuk bekerja dengan bibir dan lidah Anya. ciuman ini tak lama, tak lebih dari 30 detik, sesudahnya Anya tersenyum, entah kenapa senyumnya kali ini adalah senyum paling manis yang pernah dia miliki. Anya sejenak mengalihkan pandangan'y dari Dean, Tolong Tuhan.. jangan buat aku mencintainya, ujar Anya dalam hati. Anya lalu menoleh ke arah Dean, "aku janji ga akan sayang kamu, aku janji bakalan jaga rasa semuanya sebagai seorang sahabat". itu ucap Anya memotong sesaat setelah Dean hendak mengucapkan sebuah kalimat.
Malam ini Dean mengingatnya, dan sampai kapanpun akan mengingatnya...