Kamis, 01 Oktober 2009

Pre wedding syndrome,,

Setelah menunggu lama, akhirnya, pembahasan langsung antara Widya dan Mas Ferry berlangsung juga. Mereka Tepatnya, 23 Agustus kemarin, menjadi tanggal “keputusan resmi” disetujuinya akad nikah dan resepsi mereka pada bulan oktober ini di Tangerang, Banten.

Maklum, sebelumnya, keputusan ini memang sudah disepakati, namun belum diadakan pertemuan langsung kedua keluarga. Alhamdulillah, aku sebagai salah satu sahabatnya merasa lega mendengar kabar itu.

Dan sekarang, kurang lebih 1 bulan menjelang hari H. sesuatu datang tanpa disadari, yaitu kehadiran Sindrom Pra Nikah. Sumpah, ini merupakan sindrom yang menciptakan kata 'Takut' secara makro. Takut ini.. Takut itu... dan standar'y adalah Takut tidak bisa menjadi pasangan yang baik untuk calonnya. Dan beberapa pesimisme setelah itu muncul bersaut-sautan dengan sendirinya. Sedikit banyaknya aku mengetahui tentang ini dari gelagat yang terlihat dan curhatan yang terlontar dari mulut sahabat'ku.

Aku sangat yakin, bagi Widya sendiri, sindrom ini cukup mengganggu. Bawaannya lemas, berasa ingin marah-marah, sensitif, dan kadang ingin menangis terus.

Hal wajar yang pertama kali terbayang adalah sudahkah aku menyempurnakan baktiku ke pada orang tuaku sebelum aku menikah?
ini merupakan salah satu hal yang membuat Widya sahabat'ku menangis. hal selanjut'y adalah karena terbayang akan dosa yang sudah diperbuat. Belum lagi ditambah dengan pertanyaan di benak, such as: Mampu ga aku menjadi istri yang baik untuk Mas Ferry? Mampukah aku menjadi istri yang shalihah dengan tulus ikhlas kepada suami? Mampukah aku menjadi istri yang akan selalu berada di samping suami dalam suka maupun duka?

Semua pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam dirinya. Seakan datang dan terus menghantuinya. Padahal, mungkin tidak ada satu pun tuntutan untuk melakukan dan menunaikan hal tersebut dengan perfect dari awal. Sungguh. Akhirnya, setelah masalah ini di -share dengan beberapa sahabat, Alhamdulillah widya sudah sedikit tenang, (Padahal kita semua yang memberi saran kepadanya, mostly belum menikah…Hehehehee).

Kita sepakat, Kuncinya adalah melihat sebuah masalah pada 2 sisi yang seimbang lalu kemudian menggiring pikiran positif untuk mendominasi agar merubah ketakutan menjadi sebuah kekuatan.

Dan disaat-saat inilah, apa yang disebut cinta yang ikhlas teruji.
Kalau kata Orang2 bijak nie.., "ya kembalikan lagi kepada niat kita menikah. Kalau semuanya dijalani dengan ikhlas karena Allah, insyaallah bisa diatasi". Amin!

Oiya, ternyata Mas Ferry pun merasakan ketakutan-ketakutan yang sama dengan Widya. Hanya saja Mas Ferry lebih mempertimbangkan segi mental, fisik, dan materi.

.

Dan intisari yang aku ambil dari curhatan beberapa teman yang mengalami ini, Ada beberapa cara untuk meminimisasi sindrom ini merajalela...

Yakinkan diri kamu
Bahwa dia adalah orang yang tepat. Ga ada Superman yang sempurna di tiap detil kehidupan, so stop blaming him while you’re angry or upsat. (Cowo lain blm tentu lebih baik gals! mungkin dia hanya godaan sementara dalam masa pra nikah).

About wedding preparing
Tidak dan jangan dijadikan masalah jika kamu menyiapkan sendiri segala sesuatu'y, malah bisa jadi surprise buat calon kita dan lebih puas krn semua terserah 'Gw'. hihi,,
Tapi klo ngerasa berat, keluarga or sahabat terdekat bisa kamu carter kok untuk bantu kamu,, hehe

Kesepakatan n komitmen
Saling terbuka n komunikatif dengan calon, hal2 apa aja yg prinsip untuk do’s and don’t selama pernikahan nanti. Misalnya..janji bahwa si cewek tetep boleh bekerja, dll.

The X Factor
Mau percaya atau tidak, mau peduli atau tidak.. faktor X sangat berpengaruh pada kehidupan kamu. So... Waspadalah!!!!

Last but not least.. sering2lah curhat.
Curhat terkadang memang tidak selalu dapat menyelesaikan masalah.. tapi cukup untuk mencairkan isi hati yang terasa dingin atau tegang. Dan terkadang curhat dilakukan seseorang hanya untuk meyakinkan diri atas jawaban yang sebenar'y memang sudah kamu pilih.

Hubungan Vertika & Horizontal
Kalian pasti mengerti tentang hal ini. ;p


Terlepas dari masalah Syndrome Pra Wedding ini... Aku lega dan bangga dengan sikap mereka yang terlihat dewasa, serta mampu melewati berbagai rintangan dan godaan yang datang silih berganti.
Memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius dan menikah memang bukan hal yang mudah, bahkan lebih sulit dan berat dari apa yang kita bayangkan sebelumnya.
Kita sebagai sahabat, hanya berharap semua yang terbaik selalu datang untuk kelanjutan hubungan kalian berdua. Chaayooo....!!!!!

2 komentar:

  1. wah bener bgt pud , kirain aku aja yg ngalamin hal kayak gitu...hihi....lumayan dpt pencerahan thanx palz...

    BalasHapus
  2. Hehehe... Sipz!
    Ini pembelajaran juga buat aku, atau siapapun untuk ga gampang kepengaruh dan tetap yakin akan pilihan'y. Menyesal selalu datang di akhir jika kita salah mengambil keputusan. Wish All the Best yah...!

    Hayang boga calon euuuy.... hahaha,,

    BalasHapus